Blogger Template by Blogcrowds

.

Agregat Supply

Makroekonomi klasik tidak membuat perbedaan antara penawaran agregat jangka panjang dan penawaran agregat jangka pendek. Hanya satu kurva penawaran agregat dan kurvanya berbentuk vertikal---jumlah GDP riel tidak tergantung pada harga. Makroekonomi Klasik menyatakan proposisi ini mengikuti cara kerja pasar tenaga kerja. Dalam model umum, ketika tingkat pengangguran (unemployment) di atas tingkat pengangguran alamiah, maka kecenderungan upah turun (dalam kenyataan, kenaikannya lebih lambat dibandingkan kenaikan tingkat harga). Ketika tingkat pengangguran di bawah tingkat pengangguran alamiah, kecenderungan upah naik (dalam kenyataan, menaiknya lebih cepat dibanding menaiknya tingkat harga). Menurut makroekonomi Klasik, kecenderungan upah untuk menyesuaikan dengan kondisi-kondisi pasar tenaga kerja sangat kuat dan cepat, sehingga dengan demikian tingkat pengangguran selalu berada pada tingkat pengangguran alamiah.
Ahli makroekonomi Klasik mengetahui bahwa adanya fluktuasi tingkat pengangguran, dan tingkat pengangguran tersebut terkadang tinggi. Mereka mengartikan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut sebagai fluktuasi-fluktuasi pada tingkat pengangguran alamiah, bukan sebagai fluktuasi-fluktuasi pada pengangguran di sekitar tingkat alamiah.
a.      Kurva Penawaran Agregat dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya
Kurva penawaran agregat yang berlainan disebabkan oleh pandangan ahli-ahli ekonomi yang berbeda mengenai adakah ekonomi yang telah mencapai kesempatan kerja penuh dan implikasi pertambahan pendapatan nasional dan kesempatan kerja ke atas tingkat harga serta cirri-ciri pasran tenaga kerja.
Menurut pendapat ahli-ahli ekonomi Klasik perekonomian akan selalu mencapai kesempatan kerja penuh. Dengan demikian pendapatan nasional akan selalu mencapai tingkat yang paling maksimum yaitu pendapatan nasional pada kesempatan kerja penuh YfJumlah barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara pada tahun tertentu yang digambarkan oleh Yf’tergantung kepada faktor – faktor produksi yang tersedia. Jumlah faktor-faktor produksi inilah yang akan menentukan kedudukan Yf. Dalam grafik (a) dari gambar 2.3 perpindahan AS0 dan Yf menjadi AS1 dan Y1f menggambarkan bahwa jumlah faktor-faktor produksi yang sudah semakin banyak dan memungkinkannya untuk menaikkan produksi negara dari Yf menjadi Y1f.
Kurva penawaran agregat yang dikaitkan dengan pendapat golongan Keynesian perlu dibedakan pada dua bentuk : yang digunakan dalam analisis Keynesian sederhana dan pandangan yang telah mempertimbangkan keadaan di pasaran tenaga kerja.Grafik (b) pada hakikatnya menggambarkan bahwa tingkat harga tidak akan mengalami perubahan sebelum tingkat kesempatan kerja penuh dicapai. Tingkat harga tidak akan mengalami perubahan dan dalam grafik tingkat harga tersebut adalah P0. Pada tingkat kesempatan kerja penuh keadaan sebaliknya akan berlaku, yaitu apabila ekspansi dalam perbelanjaan agregat masih terus berlaku, pendapatan nasional tidak dapat ditambah tetapi harga-harga akan meningkat. Penggunaan tenaga kerja yang semakin banyak akan menambah pendapatan nasional. Dengan demikian peningkatan harga akan menambah pendapatan nasional riil. Sifat dari hubungan ini digambarkan oleh kurva penawaran agregat AS di grafik (c) dan kurva ini dikembangkan oleh golongan Keynesian baru.
Dalam analisis penawaran agregat yang dihubungkan dengan pendapat golongan Ekspektasi Rasional atau Klasik baru perlu dibedakan diantara penawaran agregat jangka pendek (short run aggregate supply atau SRAS) dengan penawaran agregat jangka panjang (long run aggregate supply atau LRAS). Yang dimaksudkan dengan “jangka pendek” dalam konsep diatas adalah jangka waktu dimana hanya harga-harga barang dan harga bahan mentah (seperti minyak) yang akan mengalami perubahan. Sedangkan dalam “jangka panjang” perubahan bukan saja berlaku ke atas tingkat harga barang-barang tetapi juga ke atas harga-harga input (bahan mentah dan faktor-faktor produksi) yang digunakan dalam proses produksi.
 Gambar 2.3 :Bentuk-bentuk Kurva Penawaran Agregat
Kurva Phillips Dan Penawaran Agregat
Kurva Phillips menggambarkan ciri perhubungan diantara tingkat kenaikan upah dengan tingkat pengangguran, atau di antara tingkat harga dengan tingkat pengangguran. Nama kurva tersebut diambil dari orang yang mula-mula sekali membuat studi dalam aspek tersebut. Dalam tahun 1958 A.W. Phillips, yang pada waktu itu menjadi Profesor di London School of Economics, menerbitkan satu studi mengenai cirri-ciri perubahan tingkat upah di Inggris dalam periode 1861-1957. Studi tersebut meneliti sifat hubungan diantara tingkat pengangguran dan kenaikan tingkat upah. Kesimpulan dari studi tersebut adalah : terdapat suatu sifat hubungan yang negative (berbalikan) diantara kenaikan tingkat upah dengan tingkat pengangguran. Pada ketika tingkat pengangguran tinggi, persentasi kenaikan tingkat upah adalah rendah dan apabila tingkat pengangguran rendah, persentasi kenaikan tingkat upah adalah tinggi.
Kurva Phillips
Contoh hipotetikal sesuatu kurva Phillips ditunjukkan pada gambar 3.1. Titik-titik dalam grafik tersebut menunjukkan hubungan diantara kenaikan tingkat upah nominal dan tingkat pengangguran. Perhatikan dua contoh berikut : dalam tahun t0– yaitu tahun 1990, tingkat pengangguran adalah m0 dan persentasi kenaikan upah adalah DW0’ dan dalam tahun t1 yaitu tahun 1995 tingkat pengangguran adalah m1 dan tingkat kenaikan upah adalah DW1. Titik to dan t1 menggambarkan hubungan tersebut. Maksudnya titik t0 menunjukkan pada tahun 1990 kenaikan upah adalah DW0 dan pada waktu itu tingkat pengangguran adalah m0 dan titik t1 menunjukkan pada tahun 1995 besarnya kenaikan upah adalah DW1 dan pada tahun yang sama tingkat pengangguran adalah m1. kurva Phillips ditentukan (secara analisis statistik) berdasarkan kedudukan titik-titik yang dicontohkan di atas. Walau bagaimanapun kurva Phillip telah memberi gambaran yang berguna mengenai pertalian di antara perubahan tingkat upah dan tingkat pengangguran. Kurva itu dapat digunakan sebagai suatu titik tolak untuk memahami bentuk yang lebih realistis dari kurva penawaran agregat.
Gambar 3.1 : Kurva Phillips

Kurva Phillips Dan Penawaran Agregat
Untuk memahami bentuk yang lebih realistis dari kurva penawaran agregat AS, dua langkah perlu dilakukan. Yang pertama, berdasarkan kepada kurva Phillips, perlu ditentukan sifat hubungan di antara tingkat upah dengan tingkat kesempatan kerja. Ini ditunjukkan oleh grafik (a) pada gambar 3.2. Kedua, berdasarkan sifat hubungan di antara tingkat upah dan tingkat kesempatan kerja dalam grafik (a) ini, selanjutnya ditentukan pula hubungan diantara tingkat harga dengan pendapatan nasional riil. Hubungan tersebut menggambarkan kurva penawaran agregat dalam perekonomian dan ditunjukkan dalam grafik (b). Kurva Phillips menunjukkan bahwa : semakin kecil tingkat pengangguran, semakin tinggi tingkat kenaikan upah. Dengan kata lain, peningkatan kesempatan kerja akan mempercepat kenaikan upah dan mempertinggi tingkat upah.
Gambar 3.2 : Membentuk Kurva Penawaran Agregat
3.2 Penawaran Agregat Lucas : Pandangan Ekspektasi Rasional Dan Monetaris
Kurva penawaran agregat yang dianalisis dalam teori makroekonomi pada ketika ini selalu dikaitkan kepada analisis tersebut dalam tulisannya: “The Role of Monetary Policy” dalam The American Economic Review (Maret 1968). Pada tahun 1973 Robert Lucas telah menyempurnakan analisis Friedman dalam tulisannya : “Some International Evidence on Output – Inflation Trade-offs” yang juga diterbitkan dalam American Economic Review. Teori penawaran agregat yang dikembangkan tersebut dinamakan juga sebagai teori penawaran agregat Lucas.
Pembentukan Kurva Penawaran Agregat
Penentuan penawaran agregat seperti yang diterangkan oleh Lucas pada dasarnya merupakan modifikasi dari pembentukan penawaran agregat dalam model Klasik. Dalam modelnya Lucas diperhatikan penyesuaian-penyesuaian jangka pendek yang berlaku sebagai akibat perubahan harga dan tingkat upah. Telah ditunjukkan bahwa perubahan harga dan upah akan menimbulkan perubahan ke atas permintaan tenaga kerja. Perubahan ini selanjutnya akan menimbulkan perubahan ke atas penawaran agregat.
Pada grafik di bawah ini menggambarkan kurva permintaan tenaga kerja dan digambarkan sesuai dengan analisis mengenai hubungan di antara keseimbangan di pasaran tenaga kerja dengan permintaan tenaga kerja yang diterangkan sebelum ini. Misalkan pada mulanya keadaan di pasaran tenaga kerja ditunjukkan oleh titik E- yaitu tingkat upah riil adalah W0/P0 dan tenaga kerja yang digunakan adalah No yang akan dimisalkan juga sebagai jumlah tenaga kerja pada kesempatan kerja penuh. Titik E ini bertindih dengan titik B yang menggambarkan hubungan di antara upah W2 dan tingkat harga P1 di mana W2/P1 = W0/P0’ dan dengan titik D yang menggambarkan hubungan di antara upah W4 dengan tingkat harga P2 dimana W4/P2 = W0/P0. Titik A menggambarkan bahwa permintaan tenaga kerja telah meningkat dan ini disebabkan karena kenaikan harga (dari P0 menjadi P1) diikuti oleh kenaikan upah yang lebih rendah tingkatnya (W0 menjadi W1) dan menyebabkan upah riil merosot (W1/P1 lebih rendah dari W0/P0). Titik C menggambarkan keadaan sebaliknya yaitu harga mengalami tingkat pengurangan yang lebih besar (dari P0 menjadi P2) dari penurunan upah (dari W0 menjadi W3) dan mengakibatkan kenaikan upah besar (W3/P2 lebih tinggi dari W0/P0).

Gambar 3.4: Kurva Penawaran Agregat

Penawaran Agregat Golongan Keynesian Baru
Menurut golongan Keynesian Baru, upah di dalam pasaran ditentukan secara kontrak diantara pekerja dan majikan, dan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan dalam permintaan dan penawaran tenaga kerja yang berlaku. Dengan perkataan lain upah cenderung untuk bertahan pada tingkat yang sudah disetujui oleh perjanjian di antara tenaga kerja dan majikan. Pengurangan permintaan tenaga kerja tidak akan menurunkan upah nominal dan sebaliknya pertambahan permintaan tenaga kerja tidak akan secara tepat menaikan upah nominal.
Cara Membentuk Penawaran Agregat Keynesian Baru
Berdasarkan kepada pandangan di atas maka pembentukan kurva penawaran agregat dalam pendekatan golongan Keynesian Baru adalah sedikit berbeda dengan yang digunakan oleh golongan Klasik Baru. Uraian berikut akan menunjukkan pembentukan kurva AS dalam pendekatan Keynesian Baru dan perbandingan kurva AS menurut golongan Klasik Baru dan Keynesian Baru.
Gambar 3.5 menunjukkan pendekatan golongan Keynesian Baru dalam membentuk kurva penawaran agregat AS. Grafik dibawah ini menggambarkan permintaan tenaga kerja pada berbagai tingkat harga dan penawaran tenaga kerja apabila para pekerja mempunyai ekspektasi bahwa tingkat harga yang berlaku adalah P0. Pada mulanya dimisalkan permintaan tenaga kerja ditunjukkan oleh kurva ND(P0) yaitu kurva permintaan yang akan berlaku apabila tingkat harga adalah P0. Dengan demikian keseimbangan pasaran tenaga kerja dicapai di titik E0. Berdasarkan kepada keseimbangan ini perjanjian kerja diantara pekerja dengan majikan akan menetapkan tingkat upah pada W0. Menurut golongan Keynesian baru, tingkat upah ini relatif stabil dan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan harga barang, selama kontrak perjanjian kerja masih berlaku. Pada keseimbangan ini tenaga kerja yang digunakan adalah N0.
Apabila berlaku kenaikan harga dari P0 menjadi P1 akan berlaku pergeseran ke atas kurva permintaan tenaga kerja yaitu menjadi ND (P1). Tanpa perubahan dalam tingkat upah (yaitu tetap sebanyak W0) keseimbangan di pasaran tenaga kerja dicapai di titik E1. Sebagai akibat N1 tenaga kerja akan digunakan dalam perekonomian, dan akan meningkatkan produksi nasional riil menjadi Y1.

Gambar 3.5  : Penawaran Agregat Golongan Keynesian Bar

3.3.2 Perbedaan Kurva AS Klasik Baru Dan Keynesian Baru
Untuk menunjukkan pembentukan kurva permintaan agregat golongan Klasik baru akan digunakan pendekatan seperti yang digunakan dalam menerangkan grafik di bawah ini. Kenaikan harga, dari P0 menjadi P1’ menyebabkan kurva permintaan tenaga kerja bergeser menjadi ND (P1) dan keseimbangan di pasar tenaga kerja bergeser ke titik D yang menggambarkan tingkat upah nominal meningkat menjadi W1 dan kesempatan kerja menjadi N3. Berdasarkan kepada keseimbangan ini maka produksi nasional riil meningkat menjadi Y3 dan hubungan di antara tingkat harga (P1) dengan pendapatan nasional riil (Y3) ditunjukkan oleh titik D pada grafik (d). Sekarang perhatikan keadaan yang sebaliknya yaitu apabila harga turun dari P0menjadi P2. Permintaan tenaga kerja akan menjadi ND (P2) dan keseimbangan di pasaran tenaga kerja dicapai di titik E.Tingkat upah nominal menurun menjadi Wdan tenaga kerja yang digunakan adalah sebanyak N4 . Berdasarkan pada perubahan ini maka titik E pada grafik (d) menggambarkan hubungan yang baru diantara tingkat harga (P2) dan pendapatan nasional riil (Y4). Penawaran agregat dalam analisis Klasik Baru diperoleh dengan membentuk suatu kurva yang melalui titik E, A dan D yaitu kurva ASc. Dari analisis ini dapat disimpulkan: kurva penawaran agregat Klasik Baru (ASc) adalah lebih curam dari kurva penawaran agregat Keynesian Baru (ASK).

Gambar 3.6 Kurva AS: Pandangan Klasik Baru dan Keynesian Baru.

b.      Dua Penyebab Fluktuasi Ekonomi
Bagi kaum neo-keynesian, fluktuasi ekonomi terjadi karena dua penyebab utama :
1.      terjadinya perubahan-perubahan adlm tingkat investasi & rendahnya tingkat konsumsi.
2.      fluktuasi terjadi karena tidak a&ya mekanisme koreksi yg mampu mendorong perekonomian pada keseimbangan kesempatan kerja penuh (full employment equilibrium).

Agregate  Demand
Dalam makroekonomi Keynes, yang sangat mempengaruhi permintaan agregat adalah kebijakan fiskal dan pengaruh dari luar negeri. Potensi yang mempengaruhi permintaan agregat yang berasal dari perubahan-perubahan penawaran uang dianggap lemah atau tidak ada.
Dalam model Keynes, perubahan dalam penawaran uang mempengaruhi permintaan agregat namun melalui pengaruh-pengaruh penawaran uang terhadap investasi. Pengaruh-pengaruh penawaran uang pada investasi bersifat tidak langsung melalui tingkat bunga: meningkat penawaran uang menyebabkan kredit mudah, tingkat bunga sangat rendah, dan mengairahkan investasi. Menurut model Keynes, faktor-faktor tersebut tidak ada yang berpengaruh kuat. Meningkatnya penawaran uang tidak memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penurunan tingkat bunga, dan tingkat bunga hanya memiliki pengaruh yang lemah pada investasi.
Pada model Keynes, perubahan perpajakan dan pembelanjaan pemerintah pada barang-barang dan jasa-jasa memberikan pengaruh besar pada permintaan agregat. Pengaruh besar ini meningkat melalui mekanisme yang sama, sehingga menyebabkan pengaruh uang terhadap permintaan agregat menjadi lemah.
Penganut Keynes sepakat dengan para ahli ekonomi Klasik bahwa meningkatnya pembelanjaan pemerintah atau pemotongan pajak menyebabkan meningkatkan tingkat bunga yang berdampak pada tersendatnya investasi, sehingga untuk mengurangi dampak tersebut dengan meningkatkan pembelanjaan pemerintah atau perpajakan rendah, tetapi mereka menganggap mekanisme tingkat bunga menjadi salah satu kelemahannya.
Dalam Model Keynes, meningkat pembelanjaan pemerintah atau pemotongan pajak hanya memberikan efek kecil pada tingkat bunga, dan memberikan efek kecil pada investasi, namun perubahan-perubahan pada pengeluaran pemerintah dan pajak memberikan efek besar pada permintaan agregat.

a.      Fluktuasi Ekonomi ( Siklus Ekonomi ) Jangka Pendek
Siklus Jangka Pendek (Kitchin Cycle)
Penemu : Joseph Kitchin (1923)
Durasi : 40 bulan
Faktor yang mempengaruhi : Custom & Nature
Pengaruh alamiah (Nature): iklim, pengaruh sinar matahari, curah hujan, kekuatan angin, gelombang laut memengaruhi aktivitas ekonomi.
Pengaruh adat-istiadat (Custom): Perayaan hari raya mempengaruhi permintaan masyarakat.

Siklus ekonomi & kesempatan kerja berhubungan positif
-          Jangka pendek siklus ekonomi : Kesempatan Kerja; tingkat pengangguran
Asumsi : Teknologi konstan, barang modal tetap dan tenaga kerja adalah variable yang berubah.
Jika output riil < output natural à tingkat pengangguran meningkat > tingkat pengangguran natural, dan sebaliknya.
Jika outpu riil = output natural à tingkat pengangguran meningkat = tinggak pengangguran natural.
Siklus ekonomi dan inflasi
Jika output riil < output natural à inflasi, dan sebaliknya.

Pengelolaan Siklus Ekonomi
Untuk menekan dampak negative dari siklus ekonomi maka diperlukan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang di bidang moneter dan fiscal.

Kebijakan Jangka Pendek
Target Utama : Mengatasi output gap
Untuk mempengaruhi permintaan dan penawaran agregat jangka pendek; stimulasi permintaan.

b.      Kurva Permintaan Agregat dan Faktor –Faktor yang Mempengaruhinya
Permintaan agregat dapat ditampilkan dengan menggunakan Kurva atau tabel yang menunjukkan berbagai jenis barang & jasa yang dibeli secara kolektif pada tingkat harga tertentu. Bentuk Kurva Permintaan Agregat (AD) & Kurva Permintaan Pasar adalah sama tetapi faktor yang menyebabkan Kurva tersebut bercerun negatif adalah berbeda. Faktor-faktor yang menyebabkan
Kurva permintaan agregat bercerun negatif adalah:
a) Efek Kekayaan
- Biaya atau petunjuk yang dilakukan oleh pengguna tergantung pada kekayaan yaitu satu hubungan yang positif. (Kekayaan mengacu pada pemegangan uang, saham, obligasi, rumah serta asset fisik yang lain. Kekayaan yang dimiliki
dipengaruhi oleh tingkat harga)
b) Dampak Harga Bunga
- Efek harga bunga ditujukan karena perubahan tingkat haraga mempengaruhi harga bunga
- Efek ini mempengaruhi petunjuk & investasi
c) Efek Pembelian Asing (Ekspor & Impor)
- Jumlah ekspor & impor dalam suatu ekonomi tergantung pada harga Domestic & asing
5.1.1 Menerbitkan Kurva Permintaan Agregat (AD)
Kurva AD dapat diterbitkan dari model Biaya Agregat (AE). Permintaan Agregat (AD) adalah jumlah permintaan barang & jasa dalam ekonomi
5.1.2 Penentu Permintaan Agregat (AD)
Kurva AD menunjukkan hubungan negatif antara harga & jumlah. Perubahan harga akan menyebabkan perubahan permintaan agregat yaitu besaran keluaran agregat yang diminta. Antara komponen biaya agregat adalah Penggunaan (C), Investasi (I), Pengeluaran Pemerintah (G) & Sektor Asing (X – M)
a) Penggunaan (C)
- Biaya Penggunaan (C) dikaitkan dengan isi rumah
- Antara faktor yang dapat mempengaruhi petunjuk adalah:
i. Kekayaan Pengguna
- Ia melibatkan asset keuangan (obligasi & saham) & asset fisik (rumah & tanah)
ii. Prediksi Pengguna
- Ia lebih berfokus pada penghasilan benar
iii. Hutang Isi Rumah
- Pengguna yang banyak berhutang akan mengurangi ongkosnya karena uang atau penghasilan yang diperoleh akan digunakan untuk membayar hutang
iv. Pajak
- Ia adalah satu bocoran ke pendapatan pengguna
- Peningkatan harga pajak penghasilan akan mengurangi pendapatan dapat guna pengguna.
b) Biaya Investasi (I)
- Biaya investasi (I) terkait dengan perusahaan
- Perubahan pembelian barang modal & investasi-investasi lain akan menyebabkan transisi Kurva AD apakah ke kiri atau kanan
- Antara faktor perubahan investasi adalah:
i. Harga Bunga
- Peningkatan harga bunga yang disebabkan oleh faktor selain harga akan mengalihkan Kurva AD
ii. Prediksi Keuntungan dari Proyek Investasi
- Keuntungan yang tinggi dari suatu proyek adalah keuntungan kepada perusahaan
- Jika keuntungan yang tinggi dari proyek yang dijalankan, pihak perusahaan akan menambahkan investasi dari segi pembelian
barang modal
iii. Pajak Bisnis
- Merupakan suatu bocoran ke perusahaan
- Tarif pajak yang tinggi akan mengurangi keuntungan setelah pajak & akan mengurangi intensif untuk perusahaan
meningkatkan investasi
iv. Tingkat lebihan Kapasitas
- Ia berarti masih ada sumber-sumber produksi yang tidak digunakan
- Kelebihan kapasitas yang tinggi akan memperlambat permintaan untuk barang modal yang baru & mengurangi permintaan
agregat
v. Teknologi
- Penemuan teknologi baru dapat menghasilkan biaya investasi & meningkatkan permintaan agregat
c) Biaya Pemerintah (G) 
- Penyediaan fasilitas infrastruktur adalah untuk menjelaskan pengeluaran pemerintah.
- Jika pemerintah meningkatkan biaya untuk menyediakan infrastruktur melalui kebijakan anggaran mengembang, Kurva AD beralih ke kanan.
- Jika pemerintah menjalankan kebijakan anggaran menguncup pula, Kurva AD beralih ke kiri.
d) Biaya Ekspor Bersih
- Perubahan ekspor yang berhubungan dengan transisi Kurva AD adalah disebabkan oleh faktor selain harga.
- Antara faktor perubahan ekspor selain harga adalah:
i. Pendapatan Negara luar (asing)
ii. Harga devisa.
5.1.3 Transisi Kurva Permintaan Agregat (AD) & Modal Biaya Agregat (AE)
Perbelanjaan agregat terdiri dari petunjuk (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G) dan ekspor bersih (X – M).
Jika terjadi perubahan dalam salah satu komponen tersebut, Kurva AD akan beralih dengan mengasumsikan tingkat harga adalah tetap.
(Jarak AD0 ke AD1 = DI xk, di mana k adalah kelipatan)



 Gambar Kurva Permintaan Agregat
Kurva Permintaan Agregat dapat mengalami pergeseran, dalam arti terjadi perubahan permintaan agregat. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan permintaan agregat adalah:
1.      Faktor konsumsi
2.      Faktor Investasi
3.      Faktor Pengeluaran dan Penerimaan Pemerintah
4.      Faktor Ekspor Bersih

                                                   Pergeseran Kurva Permintaan Agregat                                                  

Relax Therapy

Life sometimes give us a lot of tension and stress. Tugas yg numpuk, jadwal kuliah yg seakan ga ada hentinya. Bete ga sih? Nih, ada beberapa tips agar kita bisa tetep relax menghadapi berbagai pressure di hidup kita.
·         Aroma kulit jeruk terbukti bisa meringankan sakit kepala. Coba deh tambahin air dari perasan lemon ke dalam gelas air putih atau teh terutama saat lagi ngadapin hectic day.
·         Minum teh peppermint karena bisa meredakan ketegangan di saluran pencernaan dan gejala sakit kepala.
·         Inhale and exhale slowly. Jangan lupa buat melakukan gerakan kecil misalnya angkat tangan pas tarik nafas lalu turunin pelan-pelan saat menghembuskan nafas.
·         Mandi  pagi. Arahkan shower ke kepala dan pundak dengan aliran yg deras supaya badan segar. Lebih baik lagi kalau pakai air hangat agar badan kita terasa lebih ringan setelahnya.
·         Coba denger suara hujan sambil berbaring di kasur and just be silence. Dijamin suasana hati jadi lebih tenang.
·         Hirup  lilin aromatherapy sebelum tidur. Really made you’re feel better.
·         Coba cari tempat dengan view yg menarik dan nikmati suasananya pasti mood kita bisa lebih oke setelahnya. 
·         Listen to your favorite music. Coba hindari music beraliran keras. It will boots up your mood.
·         Lakukan hal yg menjadi hobi kita at least once a week.
·         Makan dark chocolate dan kunyah pelan-pelan sampai kamu ketemu rasa manisnya. J
·         Beli CD lagu baru dan coba buat nyanyiin mengikuti liriknya. It’s ok to put ourselves into it and feel the darma.
·         Coba buat pijat deh. Ihiiy dijamin otot-otot yg kaku jadi normal kembali.
·         Relax in bathup. Pilih bathsalt dengan wangi lavender dan pasang lilin di sekitar tub. Kalau mau lebih santai bisa sambil dengrin lagu favorite kita looh.
·         Pakai pakaian yg baru disetrika. It’s true. Karena selain masih hangat, wangi dari cucian ini bikin kita lebih semangat!!!
·         Sebelum tidur sempetin minum hot chocolate or susu dijamin bikin tubuh lebih relax.
·         Foot spa atau refleksi. Selain pegel-pegel ilang bisa merawat kaki kita supaya terhindar dari jamur loh.
·         Window shopping. Walau nggak beli liat-liat kadang bisa naikin mood loh. Hmm…meskipun efeknya jadi BM a.k.a banyak mau. 
·         Terakhir, the cheapest and best theraphy of all is SLEEP..
SELAMAT MENCOBA GUYS…

Sumber : Majalah Gogirl Juli 2011

Koperasi di Era Globalisasi

Keberadaan beberapa koperasi telah dirasakan peran dan manfaatnya bagi masyarakat, walaupun derajat dan intensitasnya berbeda. Setidaknya terdapat tiga tingkat bentuk eksistensi koperasi bagi masyarakat (PSP-IPB, 1999) : 
Pertama, koperasi dipandang sebagai lembaga yang menjalankan suatu kegiatan usaha tertentu, dan kegiatan usaha tersebut diperlukan oleh masyarakat. Kegiatan usaha dimaksud dapat berupa pelayanan kebutuhan keuangan atau perkreditan, atau kegiatan pemasaran, atau kegiatan lain. Pada tingkatan ini biasanya koperasi penyediakan pelayanan kegiatan usaha yang tidak diberikan oleh lembaga usaha lain atau lembaga usaha lain tidak dapat melaksanakannya akibat adanya hambatan peraturan. 
Peran koperasi ini juga terjadi jika pelanggan memang tidak memiliki aksesibilitas pada pelayanan dari bentuk lembaga lain. Hal ini dapat dilihat pada peran beberapa Koperasi Kredit dalam menyediaan dana yang relatif mudah bagi anggotanya dibandingkan dengan prosedur yang harus ditempuh untuk memperoleh dana dari bank. Juga dapat dilihat pada beberapa daerah yang dimana aspek geografis menjadi kendala bagi masyarakat untuk menikmati pelayanan dari lembaga selain koperasi yang berada di wilayahnya.
Kedua, koperasi telah menjadi alternatif bagi lembaga usaha lain. Pada kondisi ini masyarakat telah merasakan bahwa manfaat dan peran koperasi lebih baik dibandingkan dengan lembaga lain. Keterlibatan anggota (atau juga bukan anggota) dengan koperasi adalah karena pertimbangan rasional yang melihat koperasi mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Koperasi yang telah berada pada kondisi ini dinilai berada pada ‘tingkat’ yang lebih tinggi dilihat dari perannya bagi masyarakat. Beberapa KUD untuk beberapa kegiatan usaha tertentu diidentifikasikan mampu memberi manfaat dan peran yang memang lebih baik dibandingkan dengan lembaga usaha lain, demikian pula dengan Koperasi Kredit. 
Ketiga, koperasi menjadi organisasi yang dimiliki oleh anggotanya. Rasa memilki ini dinilai telah menjadi faktor utama yang menyebabkan koperasi mampu bertahan pada berbagai kondisi sulit, yaitu dengan mengandalkan loyalitas anggota dan kesediaan anggota untuk bersama-sama koperasi menghadapi kesulitan tersebut. Sebagai ilustrasi, saat kondisi perbankan menjadi tidak menentu dengan tingkat bunga yang sangat tinggi, loyalitas anggota Kopdit membuat anggota tersebut tidak memindahkan dana yang ada di koperasi ke bank. Pertimbangannya adalah bahwa keterkaitan dengan Kopdit telah berjalan lama, telah diketahui kemampuannya melayani, merupakan organisasi ‘milik’ anggota, dan ketidak-pastian dari dayatarik bunga bank. Berdasarkan ketiga kondisi diatas, maka wujud peran yang diharapkan sebenarnya adalah agar koperasi dapat menjadi organisasi milik anggota sekaligus mampu menjadi alternatif yang lebih baik dibandingkan dengan lembaga lain. 
Jadi jelas terlihat bahwa Koperasi Indonesia masih sangat penting walaupun harus menghadapi era globalisasi dimana semakin banyak pesaing ekonomi yang bermunculan dari luar negeri dan walaupun seperti itu, Koperasi masih sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, selalu berusaha mensejahterakan rakyat Indonesia. Seperti kata Presiden SBY
   "Membangun ekonomi Indonesia dan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak bisa hanya mengikuti model ekonomi negara lain. Yang bisa akhirnya menggangkat taraf hidup 240 juta di seluruh tanah air dari sabang sampai marauke, dari Miangas hingga Pulau Rote adalah ekonomi rakyat "
Jadi,koperasi tidak harus hilang berbaur atau mengikuti trend negara lain dan masih dapat berdiri dan menjalankan fungsi-fungsinnya selama ini.
Tantangan koperasi dalam menghadapi globalisasi antara lain : 
1) Keterbatasan informasi pasar dan teknologi ; 
2) kendala dalam akses permodalan ; 
3) kapasitas SDM yang relatif rendah disebabkan faktor budaya yang membatasi ruang geraknya dalam berorganisasi ; dan 
4) belum dikenalnya keberadaan koperasi dikalangan masyarakat.
   Solusi menggerakan denyut nadi koperasi menghadapi globalisasi adalah melalui pemberdayaan masyarakat sendiri secara profesional, otonom, dan mandiri dalam arti berkemampuan mengelola usaha sebagaimana layaknya badan usaha lain, koperasi juga harus mampu mengoptimalkan potensi ekonominya serta memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan seluruh perilaku ekonomi. Dengan semakin besarnya peluang masyarakat dan meningkatnya jumlah kelompok masyarakat yang memiliki usaha produktif, perlu dipertimbangkan untuk menumbuhkan koperasi-koperasi baru yang otonom, dan mandiri. Untuk itu perlu : 
1) dimotivasi melalui pendidikan ;
 2) sosialisasi dalam rangka pengembangan sosial kapital kelompok masyarakat ; 
3) membangun sistem pemberdayaan ekonomi kaum masyarakat ;
 4) memacu pengembangan usaha produktif ; 
5) menumbuhkan jiwa kewirakoperasian serta 
6) mempermudah mekanisme pendirian koperasi.
  Gema globalisasi perekonomian dunia yang ditandai dengan dunia tanpa batas (borderlerss World) dan terbukanya pasar bebas membuka peluang bisnis bagi sebgaian kalangan, tetapi juga menumbuhkan kesulitan dari kalangan lainnya. Para penganut ekonomi pasar bebas sangat yakin dan berargumentasi bahwa konsep persaingan terbuka ini akan memberikan dampak positif bagi semua lapisan mayarakat semua tempat, berupa pendistribusian hasil-hasil pembangunan ekonomi yang proposional. Argumentasi ini mendapat penolakan dari ekonomi lainnya yang secara nyata telah melihat dampak negatif dari konsep tersebut, karena produksi, teknologi dan kualitas sumberdaya manusia. Terlepas dari perdebatan kedua kubu yang pro dan yang kontra terhadap globalisasi, perlu dipertanyakan apakah pelaku ekonomi Indonesia telah siap menghadapi kondisi persaingan yang semakin ketat, sedangkan diketahui sampai sekarang ini kondisi perekonomian nasional masih diwarnai oleh ketimpangan dalam penguasaan aset-aset produktif,serta kemiskinan pengangguran yang besar. Dalam menghadapi globalisasi sebanyak 189 negara yang tergabung dalam Dewan Milenium, pada September 2000 markas PBB telah menyepakati suatu kerangka pembangunan untuk perbaikan dan pencapaian kehidupan masyarakat dunia yang layak. Kerangka tersebut dituangkan dalam tujuan pembangunan milenium ( Milenium Development Goals, MDGs). Isi dari MDGs identik dengan Pembukaan UUD 1945 alinea ke-empat. Tiga dari delapan tujuan pembangunan milenium yang dideklarasikan adalah mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, mempromosikan kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan serta menjamin keberlangsungan lingkungan hidup.
Dalam konsep MDGs Indonesia termasuk dalam kategori miskin. Jumlah masyarakat miskin Indonesia pada akhir tahun 2005 adalah sebanyak 15 %. Pada akhir tahun 2006 BPS dengan segala bentuk Justifikasinya menyatakan orang miskin bertambah menjadi 17,5 % dari rakyat Indonesia, sedangkan Bank Dunia pada Bulan Agustus 2006 secara tegas mengumumkan bahwa lebih dari seratus juta rakyat Indonesia tergolong miskin. Sebagian besar penduduk miskin adalah perempuan dan tidak kurang 6 juta orang diantaranya adalah kepala rumah tangga miskin dengan pendapatan rata-rata dibawah Rp. 10.000 per hari. Persoalan struktural dengan faktor penyebab dan kendala yang tidak tunggal antara lain adanya keterbatasan kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan dan lain sebagainya masih tetap berlaku. Budaya tradisional yang beridiologi patriikhi dimana adanya ketimpangan gender dalam seluruh aspek kemiskinan yang berkepanjangan. Untuk menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarganya, sebagian masyarakat melibatkan diri dalam berbagai usaha yang berproduktif adapula yang bergabung dalam wadah yang memiliki legalitas seperti koperasi. Koperasi menciptakan peluang bagi masyarakat untuk membantu dirinya sendiri. Lebih dari 800 juta orang diseluruh dunia sudah menjadi anggota koperasi. Meskipun koperasi lebih memberi fokus untuk memenuhi kebutuhan lokal para anggotannya, mereka juga bekerjasama dan terkait. Mereka sama-sama mendukung dan mempraktekan nilai maupun prinsip yang terkandung didalam ICIS (Pernyataan Internasional tentang jatidiri Koperasi). Basis demokrasi dan kombinasi tujuan sosial ekonomi yang unik menempatkan koperasi sebagai lembaga ideal yang berperan untuk meningkatkan kelayakan globalisasi. Dalam banyak hal koperasi adalah cermin dan lebih menampakan wajah kemanusiaan dari globalisasi yang mementingkan uang dan modal semata-mata. Bukan tidak mungkin untuk menghadapi persaingan pasar bebas pengembangan peran masyarakat melalui koperasi akan menjadi salah satu titik yang menjadikan globalisasi sebagai pembukaan kesempatan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah untuk menunjukan sejauhmana potensi dan apa yang akan dilakukan koperasi agar bertahan dalam globalisasi yang diwarnai oleh persaingan efisiensi dan profesionalisme pelaku bisnis dan apa yang sesungguhnya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkembangkan koperasi dalam memberdayakan masyarakat dalam potensi ekonomi
2. POTENSI DAN TANTANGAN BAGI KOPERASI DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI
A. Potensi Koperasi
Dengan adanya otonomi daerah, menyebabkan terputus hubungan struktural antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hal tersebut menimbulkan kesulitan dalam memantau perkembangan koperasi Indonesia. Data perkembangan koperasi yang dapat dilaporkan adalah data tahun 2000 dan data yang paling mutakhir adalah data 2006 yang merupakan hasil kajian pendataan koperasi yang responsif gender Indonesia oleh Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Dari data tersebut, data dikemukakan bahwa secara kuantitatif perkembangan koperasi menunjukan peningkatan yang signifikan, seperti peningkatan jumlah koperasi aktif, jumlah karyawan dan manager, permodalan dan volume usahanya. Sementara jika dilihat dari kualitas, koperasi cenderung lebih konsisten dan memberikan dampak positif yanglebih luas yaitu penigkatan kesejahteraan keluarga.
Sesuai RPJM 2005 dimana ditargetkan perwujudan 70000 unit koperasi berarti ada tantangan bagi pemerintah untuk menumbuhkan dan memantapkan koperasi. Prioritas pada pemberdayaan koperasi juga bisa dilihat dari kenyataan bahwa koperasi cenderung lebih konsisten dibanding jenis lainnya. Dan koperasi dapat menumbuhkan antara lain kelompok usaha masyarakat yang produktif dan potensial, karena keberadaan kelompok tersebut cukup banyak.
Kementerian Negara Koperasi dan UKM dari tahun 2004-2006 adalah sebanyak 184 kelompok 32 propinsi yang mendapatkan bantuan perkuatan modal usaha berbentuk dana bergulir melalui koperasi (KSP/USP) dengan pola tanggung renteng.
Pada tahun 2007 Kementerian Negara Koperasi dan UKM akan memberikan bantuan perkuatan modal usaha kepada satu kelompok tanggung renteng melalui satu KSP/USP per propinsi sebesar Rp.22.500.000,-. Kelompok tanggung renteng dimaksud merupakan kelompok usaha produktif yang utamanya terdiri dari 1kelompok 15 orang. Diharapkan kedepan dapat dikembangkan menjadi wadah koperasi tersendiri atau menjadi anggota koperasi yang telah ada.
Adanya kelompok usaha masyarakat maupun kelompok produktif merupakan salah satupeluang bagi pengembangan koperasi baru. Maka pada tahun 2005-2007 telah terbentuk 1.555 unit koperasi baru 11 propinsi, dimana 124 unit (7,97%) adalah koperasi baru pada 6 propinsi.

3. MASALAH DAN TANTANGAN KOPERASI
Masalah dan tantangan yang dihadapi koperasi adalah sebagai berikut:
a) Akses terhadap informasi pasar dan teknologi masih relatif rendah
Khususnya dalam penerapan sistem administrasi dan keuangan yang masih tertinggal jauh sehingga sulit bersaing dengan pengusaha lainnya.
b) Akses terhadap sumber permodalan masih rendah.
Berdasarkan pengamatan dan penelitian pada kenyataannya beberapa koperasi yang lebih mengandalkan modal sendiri. Mereka cukup puas dengan modal yang dipupuk sendiri, walaupun sebenarnya membuthukan tambahan modal dari pihak luar.
c) Kapasitas Sumber Daya Manusia masih rendah
Faktor budaya menjadi salah satu kendala rendahnya tingkat pendidikan formal masyarakat juga tidak memberi kesepatan untuk terlalu banyak aktif dalam berorganisasi. Hal itu menyebabkan mereka banyak yang menjadi tenga paruh waktu dala koperasi. Dengan terbatasnya kapasitas sumberdaya manusia akan berpengaruh pula dalam akses informasi pasar dan teknologi. Sehingga mengakibatkan koperasi kalah bersaing dengan pelaku usaha yang lain.
d) Keberadaan koperasi belum cukup dikenal apalagi mengakar kalangan masyarakat.
Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa kelompok masyarakat ternyata sebagian daripada mereka tidak tahu akan keberadaan peran koperasi sebagai organisasi ekonomi yang dapat memberikan bantuan dalam berbagai aspek perekonomian. Ada sebagian kelompok lain yang takut ikut berorganisasi karena mereka menduga bahwa keikutsertaanya harus membayar sejumlah uang.

4. UPAYA MENGERAKKAN DENYUT NADI KOPERASI
Globalisasi yang ditandai dengan adanya persaingan pasar bebas tidaklah selalu buruk, bahkan menjadi tantangan bagi para pelaku ekonomi termasuk koperasi, untuk memanfaatkan peluang-peluan yang ada, seperti adanya informasi yang lebih terbuka, semua pihak dapat bebas mendapatkan akses informasi, persaingan lebih fair dan adil. Serta akses teknologi mudah terjangkau dan biayanyapun murah. Agar koperasi dapat bertahan dalam menghadapi globalisasi pemberdayan koperasi oleh masyarakat secara profesional yang otonom dan mandiri dalam arti berkemampuan dalam mengelola usaha sebagaimana layaknya badan usaha lain. Dalam globalisasi koperasi juga dituntut untuk mengoptimalkan potensi ekonominya serta berkemampuan untuk bekerjasama, saling menghargai, menghormati antar koperasi dan seluruh stakeholder lainnya dengan tetap mendapatkan perhatian dari pemerintah. Regulasi peraturan pemerintah diperlukan jika terjadi kesalahan pasar sebagai akibat dari terjadinya kecurangan dari pelaku ekonomi yang kuat terhadap yang lemah atau pasar bergerak kearah munculnya persaingan. Intervensi pemerintah dalam bentuk perlindungan diperlukan dalam rangka mengendalikan perilaku ekonomi, bukan pranata ekonomi.
Untuk memperkuat karakter bisnis koperasi,program pendidikan dan sosialisasi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam berorganisasi dan praktek bisnis koperasi. Pendidikan dan sosialisasi dibutuhkan untuk merubah mindset, meningkatkan kualitas dan kompetensi, manajerial dan bagaimana membangun jaringan serta memperkenalkan citra koperasi dan program konversi atau pembentukan koperasi beserta konsekuensi (biaya) yang ditimbulkannya.
Dalam rangka prengembangan kapabalitas usaha koperasi agar bertahan globalisasi dibutuhkan pula pendampingan yang dapat memperbaiki manajemen usaha, kualitas produk dan pengembangan pasar. Lembaga pendampingan seperti BDS/LPB dan inkubator perlu diberdayakan kembali oleh pemerintah, sehingga mampu menjalankan perannya sebagai tenaga konsultan yang sangat dibutuhkan UKM dan Koperasi.
Sebagian besar koperasi yakni sebanyak 65 % nya memiliki jenis Usaha Simpan Pinjam (USP) yang memberikan pelayanan pinjaman kredit untuk pemenuhan kebutuhan modal usaha bagi anggotanya. Keberadaan USP yang dikelola oleh masyarakat tersebut cukup signifikan manfaatnya. Bagi anggota demikian pula terhadap dukungan penghasilan bagi lembaga koperasinya. Namun demikian, agar tetap eksis perlu dilaksanakan:
(1) Pembenahan kembali kinerja KSP/USP
(2) Penetapan pengelolaanya harus benar-benar memiliki kemampuan dan kemahiran profesional keuangan dibidang mikro
(3) Perlu dipertimbangkan adanya badan atau tenaga fungsional khusus ditingkat daerah yang memantau dan mengawasi kesehatan koperasi yang memiliki USP mengingat bidang usaha memiliki kekhususan seperti bank,
(4) Serta perlu dukungan dari kalangan perbankan sebagai mita KSP/ USP
Apabila kegiatan-kegiatan itu dilakukan dengan konsisten dan fokus maka diharapkan dapat memotivasinya untuk mengembangkan wadah pengurusan akte notaris dalam paket bantuan perkuatan yang diberikan kepada koperasi dan UKM.
Khususnya mengenai pendidikan dan sosialisasi kegiatan ini perlu diadakan dalam rangka pengembangan sosial kapital kelompok masyarakat, membangun sistem perberdayaan ekonomi masyarakat, memacu pengembangan usaha produktif, menumbuhkan jiwa kewirakoperasian dan mekanisme pembentukan koperasi.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda