Blogger Template by Blogcrowds

.

Mudik

Mudik adalah kegiatan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia.
Angka-angka berikut membuktikan bahwa mudik menjadi fenomena unik dan menarik dari sebuah tradisi yang awalnya hanya berkutat pada masalah kefitrahan diri menjadi sebuah budaya mobilitas massal yang sangat masif dan konsumtif. Mulanya hanyalah menjaga  silaturahmi dan keberkahan di antara kerabat, sahabat maupun orang-orang terdekat, berubah menjadi gelombang kehidupan yang mampu mempengaruhi tatanan ekonomi negara. Semua karena tradisi mudik!
Sekitar 10 persen dari jumlah penduduk negeri ini (230.000.000 jiwa), atau sekitar 23 juta orang, melakukan mobilisasi secara bersamaan di saat mudik Lebaran dan setiap tahunnya, jumlahnya terus mengalami lonjakan.
Mudik dijadikan sebagai wahana klangenan atau “jembatan nostalgia” dengan masa lalu. Pemudik yang rata-rata berasal dari desa, diajak bercengkerama dengan romantisme alam pedesaan, yang di dalam konsep antropologi dikenal dengan sebutan close coorporate community. Pemudik merindukan nilai-nilai kebersamaan alamiah yang jarang lagi mereka temui dikota, karena ketatnya persaingan memburu “status”. Di sinilah ada benang merah yang dapat ditarik, mengapa keinginan pemudik untuk mengenang “sejarah” dirinya (barang sejenak) selalu dilakukan beriringan dengan perayaan Idul Fitri.

Hal di atas bisa dimaklumi, karena selama masa perantauannya, masyarakat urban “dipaksakan” menerima dan menjalankan tatanan sosial yang sebenarnya bertentangan dengan “kodratnya.” Hubungan-hubungan sosial di perkotaan (tempat mereka mengais rejeki), berbeda 180 derajat dengan solidaritas sosial yang dibangun di pedesaan, yang lebih menekankan ikatan emosional, moralitas dan kekerabatan. Solidaritas ala masyarakat perkotaan lebih didasarkan pada hubungan pekerjaan dan kepentingan (vested interest), terutama kepentingan ekonomi. Akibatnya, masyarakat urban dituntut untuk kerja kelas dan menghargai waktu jika tidak ingin terlindas roda zaman. Inilah yang mendorong mereka untuk, paling tidak, melepas penat sembari bernostalgia dengan masa lalu dengan jalan mudik (berlebaran di kapung). Sudah barang tentu, mereka juga tidak akan melewatkan gebyar ritual Idul Fitri di daerah asal yang suasananya lebih menyejukkan dan “menggigit” ketimbang di perkotaan.


Momentum Idul Fitri
Idul Fitri mempunyai makna dan dampak yang sangat menakjubkan dalam kehidupan, baik aspek pribadi dan aspek sosial. Sebelum Idul Fitri ada puasa Ramadhan yang merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bila kita sadari hal ini, ada sebuah kesadaran umum dalam masyarakat bulan Ramadhan merupakan sarana untuk meningkatkan amal ibadah. Dampaknya apa? Dalam bidang ekonomi kita bisa melihat secara langsung. Saat Idul Fitri terdapat budaya mudik ke kampung halaman. Tujuannya sangat mulia, yakni untuk bertemu keluarga dan sanak saudara. Dan saat mudik terdapat budaya untuk berbagi rejeki kepada sanak saudara dan tetangga. Terlepas dari masalah status sosial, mudik ke kampung halaman adalah sebuah niatan baik dan berdampak positif bagi sekitar lingkungan masyarakat. Yang tidak kalah penting juga adalah adanya silaturahmi antara tetangga, anggota masyarakata, dan bahkan para pejabat. Sebuah sarana untuk saling maaf dan memaafkan dan sekaligus membuka networking. Silaturahmi bisa membuat umur panjang, sangat membuka peluang untuk terjadinya kegiatan ekonomi yang positif di masyarakat.
Hal inilah yang perlu kita sadari dan diperlukan sebuah kesadaran bersama di masyarakat. Dan untuk menghilangkan sebuah stigma ‘gara-gara masalah ekonomi atau karena masalah ekonomi’ yang membawa dampak bagi aspek kehidupan yang lain. Seperti masalah kriminalitas, kenakalan remaja, pendidikan, dan lain-lain.  Dan stigma tersebut bisa kita rubah dengan mengambil pelajaran dari nilai-nilai Idul Fitri. Nilai-nilai Idul Fitri yang bisa kita simpulkan antara lain :
§  Upaya pendekatan diri kepada Tuhan
§  Niat yang baik
§  Mencintai keluarga
§  Berbagi kepada sesama
§  Silaturahmi
§  Dll
Jika kita amati dampak peningkatan pertumbuhan ekonomi selama lebaran dan saat Idul Fitri merupakan dampak yang tidak langsung dari sebuah ritual agama dan budaya masyarakat. Hal inilah yang perlu disadari oleh semua pihak dan perlu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata. Membangun sebuah nilai-nilai positif dalam masyarakat. Dan kita menyadari bahwa nilai-nilai tersebut sudah ada dalam masyarakat sejak dahulu. Nilai-nilai tersebut luntur saat ini dengan berbagai sebab yang mungkin kita analisa lebih lanjut. Yang jelas faktor ekonomi sangat mempengaruhi. Misalnya orang yang kaya yang masih ingin selalu menambah kekayaannya untuk kepentingan pribadi. Dari segi lain masyarakat miskin mempunyai kecemburuan sosial, sehingga mengakibatkan keinginan untuk kaya dengan menghalalkan berbagai cara.
Perubahan tidak akan langsung terjadi, dan tidak semudah membalikan telapak tangan. Semua butuh proses yang tidak hanya dilakukan oleh satu individu. Diperlukan upaya bersama dan seluruh komponen masyarakat. Seperti momentum Idul Fitri yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan tentunya membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia secara umum. Dan saatnya kita mengawali dengan niat yang baik dan mulai dari diri sendiri untuk berbuat yang terbaik.  
 Dampak Fenomena Mudik
Fenomena mudik sangat mempengaruhi roda perekonomian tanah air terutama dalam hal penyebaran peredaran uang. Pada hari-hari biasa peredaran serta perputaran uang lebih banyak di kota-kota besar misalnya Jakarta dimana banyak kegiatan ekonomi dari mulai sekala besar maupun kecil. Pada saat Lebaran atau hari raya dan mudik maka para pemudik membawa serta uang mereka kekampung halaman membelanjakan uang mereka dikampung halaman membagikan uang THR (angpau) kepada saudaranya. Di sepanjang perjalanan mudik maupun arus balik pemudik membawa berkah tersendiri kepada penduduk sekitar jalan yang dilewati pemudik. Ada juga diantara mereka yang membagikan zakat mal di kampung halamannya, maka perekonomian di pedesaan berupa peningkatan konsumsi guna memenuhi keperluan Lebaran di pasar-pasar tradisional ada peningkatan karena daya beli masyarakat di pedesaan meningkat momen ini ditunggu oleh para pedagang terutama yang menjajakan kebutuhan Lebaran termasuk pakaian.
Dengan adanya fenomena mudik dengan segala permasalahannya memperlihatkan bahwa pembangunan di tanah air belum merata. Terutama daerah-daerah yang letaknya jauh dari kota-kota besar. Pembangunan disegala bidang masih belum merata termasuk pembangunan SDM(sumber daya manusia) ini terbukti bahwa diantara para pemudik banyak mahasiswa dan pelajar. Mereka masih menganggap bahwa belajar atau menuntut ilmu di kota besar lebih baik dari pada di daerah atau dengan alasan bahwa di daerahnya tidak ada perguruan tinggi yang sesuai dengan minatnya.
Tidak hanya aspek ekonomi yang dipengaruhi secara besar-besaran oleh kegiatan mudik, karena mudik juga mengakibatkan perputaran kependudukan, karena pada kegiatan mudik ataupun kegiatan setelahnya yang dikenal dengan arus balik seringkali terjadi urbanisasi dan re-urbanisasi secara bersamaan. Pada umumnya yang seringkali disoroti adalah kegiatan urbanisasi yang terjadi ketika arus balik, para warga desa berbondong-bondong ikut pergi ke kota bersamaan dengan sanak keluarganya ataupun teman yang sudah lebih dulu mengadu nasib di kota. Dengan diiming-imingi banyaknya kesempatan kerja merekapun pergi ke kota dengan membawa segenap harapan. Sebaliknya, mereka yang memilih untuk keluar dari kehidupan kota dan kembali menetap di kampung mungkin adalah segelintir orang yang sudah merasakan kejamnya kota besar. Tidak hanya mereka yang memiliki kekecewaan yang memilih untuk kembali menetap di kampung halamannya, tetapi ada juga mereka yang membawa segenap inovasi dan ide cemerlang untuk menjadikan kampungnya lebih baik dari sebelumnya.

Demonstration Effect

Permasalahan yang timbul kemudian adalah selama mereka mudik, perilaku mereka telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat desa. Demonstration effect kaum urban telah memikat penduduk desa yang rata-rata menghadapi problem keterbatasan lapangan kerja, seiring dengan makin langkanya areal pertanian. Michael P Todaro (1978), secara lebih spesifik, meneliti variabel ini yang mempengaruhi arus urbanisasi.

Ditambah lagi, ada sementara pemudik yang menghamburkan hasil kerjanya secara membabi buta. Ini jelas menampakkan kesan bahwa siapa saja yang mengadu peruntungannya di kota akan berhasil dan terhormat. Belum lagi pada daerah tertentu, Minangkabau misalnya, menganggap tradisi merantau sebagai “budaya khas”. Singkat kata, alasan-alasan seperti ini yang menambah motivasi untuk segera melakukan eksodus ke kota (baca: urbanisasi).

Akhirnya, urbanisasi menjadi “satu-satunya” pilihan untuk mengubah nasib. Sektor pertanian yang selama ini digelutinya, dianggap sudah ketinggalan zaman dan tidak prospektif lagi. Fenomena ini jelas membawa implikasi bagi peningkatan aktivitas sektor informal di perkotaan. Karena hanya sektor inilah yang dapat menjadi tumpuan harapan bagi kaum urban, terutama bagi yang tidak memiliki keterampilan. Sekaligus jika tidak diantisipasi lebih dini, berpotensi melahirkan persoalan-persoalan krusial seperti maraknya tindak kriminal, meledaknya pengangguran dan menjamurnya perkampungan kumuh.

Faktor Ekonomi

Sejak L. Wirth menulis tesisnya tentang Urbanism as a Way of Life (1983), urbanisasi menjadi buah bibir banyak kalangan. Urbanisasi bagi kalangan sarjana, poenting dan menariksebagai obyek penelitian dan konseptualisasi teori yang menyangkut mobilitas penduduk dari desa ke kota. Selain itu, masalah urbanisasi bersentuhan langsung dengan realitas sosial kita sehari-hari.

Dalam bukunya yang berjudul Cities, Poverty and Development Urbanization in the Third World, Gilbert dan Gigler, seperti dikutip M. Sufyan, menyebutkan banyak literatur menemukan sederet bukti bahwa a;asan utama urbanisasi adalah masalah ekonomi. Kuatnya variabel ekonomi sebagai alasan orang berurbanisasi terutama banyak dijumpai di kawasan Asia, Afrka dan Amerika Latin/. Dengan kata lain, urbanisasi lebih banyak terjadi di negara Selatan-Selatan yang relatif lebih miskin  ketimbang di negara-ne Utara-utara (Eropa dan Amerika Utara). M. Sufyan lebih lanjut memaparkan hasil penelitian Simmonz, Diaz-Briquette dan Laquian (1977), yang menguatkan penemuan Shaw (1975) dan Lawder (1978) telah membuktikan hal itu. Bahkan ilmuwan Yap (1977), dengan memakai model ekonometri, berhasil menemukan fakta bahwa perbedaan pendapatan yang tajam antara desa dan kota telah memperlicin jalan maraknya urbanisasi.

Faktor ekonomi inilah yang mempengaruhi secara signifikan terjadinya urbanisasi, termasuk di Indonesia.

Dampak Mudik Terhadap Perekonomian
Mudik di Indonesia tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap perekonomian.  Lain hal dengan negara Filipina.  Di Filipina bukan ketika lebaran tapi terjadi ketika musim natal.  Di Filipina mempunyai pengaruh yang sangat besar dari segi perekonomian dikarenakan, pekerja Filipina yang berada di luar negeri menggunakan jasa transfer uang atau remittance hingga mendatangkan devisa dalam jumlah banyak untuk negaranya.  Sedangkan di Indonesia mudik cuma peristiwa musiman. Ada uang yang ditansfer tetapi jumlahnya tidak sebesar di Filipina walaupun untuk tingkat daerah jumlah kiriman kaum pemudik itu cukup besar. Uang yang dikirimpun kebanyakan dipakai untuk keperluan rumah, mendirikan usaha kecil atau sumbangan.

Kata Mochtar Hasan, analis keuangan, mudik di Indonesia dikatakannya hanya memberikan sedikit kenaikan konsumsi domestik  pada aktivitas ekonomi, tetapi tidak punya pengaruh yang signifikan. Pemudik hanya memberikan dampak ekonomi kecil pada misalnya sector transfortasi atau sector eceran.  Jadi kalau ingin dicari dampak ekonomi mudik di Indonesia, maka itu bisa didapatkan pada kenaikan aktivitas ekonomi.  Pulangnya kaum urban ke kampung halamannya dan membelanjakan uangnya hingga menciptakan kegiatan ekonomi dadakan alias tidak punya dampak secara jangka panjang ini, diperkirakan akan terus berlangsung dimasa mendatang.


Pandangan Umar Juoro, analis ekonomi. Jadi fenomena mudik sebenarnya tidak lebih dari sebagai sebuah penghelatan singkat seperti halnya pasar malam yang tidak punya dampak ketika acaranya bubar. Itu dipandang dari segi ekonomi. Namun dari sisi lain, tentu saja, mudik tetap memberikan arti dan makna jangka panjang. Yang kerja diluar negeri, merasa sebagai orang Indonesia ketika mudik. Sementara perantau di kota kembali menjadi bagian dari kampungnya yang damai. Semuanya, mereka yang mudik dengan menggunakan pesawat sampai sepeda motor, merasa di hari nan Fitri,   kembali ke jatidiri adalah hal yang mutlak. Jika sudah begini, dampak ekonomi mudik sama sekali tidak relevan.


Sumber :
http://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/fenomena-fantastik-mudik.html

1.TantanganEkstern/ Lingkungan
     Kekuatan-kekuatandari luar yang mempengaruhi kegiatan bisnis/ perusahaan yang berpengaruh pula pada kegiatan Manajemen SDM, baik langsung maupun tidak langsung.

   Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, Manajemen personalia dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

a)      Memonitor secara terus menerus atau secara efektif dan efisien perkembangan dan perubahan lingkungan bisnis dengan melakukan membaca majalah dan kan, mendengarkan siaran radio, televisi, dll mendapatkan informasi-informasi up to date yang diperlukan.

b)      Merespon atau mereaksi secara cepat dalam bentuk fleksibel setiap informasi setelah dianalisis untuk menghasilkan respon yang paling tepat dengan cara mengembangkan , mempertahankan atau menghentikan kegiatan bisnis dan kebijaksanaan SDM  yang  sedang berlangsung.

2.Tantangan Intern / Keorganisasian

    Untuk menghadapi tantangan internal, langkah-langkah yang diambil:
  •    Meningkatkan control untuk mencegah, dengan berusaha agar setiap persoalan dapat diselesaikan secepatnya sebelum berkembang menjadi persoalan besar.  
  • Bertindak secara proaktif dalam arti aktif melakukan usaha mengambil langkah-langkah penyelesaian, sebelum masalah-masalah lepas dari kendali.


c)  Organisasi/ perusahaan memerlukan manajer yang mampu bekerja dalam menghadapi kompetisi secara fleksibel

3. Tantangan Individual / Profesionalitas
- Keserasian  antara pekerja dengan organisasinya
- Tanggungjawab etnis dan social
- Produktivitas
- Pelimpahan kekuasaan/ wewenang
- Penyaluran buah pikiran

4.Tantangan MSDM lainnya:

a.    Masih banyak top manajer dan para manajer pembantunya yang  belum memahami fungsi, tujuan dan kontribusi MSDM dalam mengembangkan organisasi/  perusahaan agar  menjadi kompetitif dalam mewujudkan eksistensinya.

b.    Masih banyak top manajer dan para manajer bawahannya, yang tidak menyadari, kurang memahami, dan tidak melaksanakan tanggung jawabnya dalam mengelola SDM dilingkungannya masing-masing.

c.    Dari manajemenSDM ternyata masih sangat langka tenaga kerja yang professional untuk melaksanakannya secara efektif dan efisien

 Globalisasi memberikan implikasi terbukanya peluang bagi para manajemen dalam berbagai bidang untuk memberikan solusi alternative kepada pengguna untuk memperoleh kualitas layanan unggul. Hal ini memberikan tantangan bagi suatu organisasi perusahaan untuk menghasilkan kualitas layanan prima.

Organisasi dengan subsistem manusianya merupakan kesatuan system yang bertujuan mencapai berbagai sasaran yang telah ditetapkan organisasi. Pendekatan untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan produktivitas personel dalam era kompetisi yang semakin meningkat telah menjadi salah satu upaya kunci keberhasilan organisasi. Kenyataan telah menunjukkan semakin banyak organisasi yang bergantung pada para karyawan yang inovatif,kreatif, dan terampil.

Sementara lingkungan bisnis yang telah berubah menuntut adanya pandangan jauh ke depan searah jalannya organisasi agar tetap stabil dan sigap mengatasi perubahan-perubahan. Dengan demikian, organisasi perlu memiliki pemimpin yang visioner yang mampu melihat ke depan, memprediksi perubahan yang akan terjadi, melakukan penyesuaian dalam organisasi, dan menjembatani tuntutan bisnis sekaligus menjadi ktalisator pengembangan SDM. Pusat pengembangan potensi SDM mengambil peran untuk memetakan profil kompetensi SDM yang dimiliki organisasi saat ini berdasarkan criteria- criteria yang dibutuhkan untuk masa datang.
Organisasi harus mencari jalan untuk mengurangi hambatan-hambatan. Pertama, organisasi harus belajar keanekaragaman dari budayadan nilai-nilai anggotanya.Keedua, organisasi harus mengembangkan budaya organiasasi sendiri melalui komunikasi yang baik dengan anggotanya. Untuk mendukung usaha mengembangkan budaya organisasi, harus ada perubahan pada kebijakan SDM.

Faktor Eksternal Organisasi

Faktor lingkungan atau keadaan yang bersumber dari luar organisasi yang dapat menghambat usaha peningkatan fungsi SDMyang mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Faktor tersebut adalah angkatan kerja, peraturan/hukum perundang-undangan, persaingan, konsumen, serta perubahan teknologi, ekonomi, dan masyarakat.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan lingkungan organisasi, manajemen personalia dan SDM dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

1.     Memonitor lingkungan, untuk mengidentifikasi perubahan variabel lingkungan.
2.     Mengevaluasi dampak perubahan lingkungan.
3.     Mengambil tindakan-tindakan proaktif dari perubahan lingkungan yang terjadi
4.     Mendapatkan dan menganalisa umpan balik.

Sumber daya yang terpenting dalam organisasi adalah sumber daya manusia,
orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreativitas, dan usaha mereka kepada
organisasi agar suatu organisasi dapat tetap eksistensinya. Setiap manusia memiliki
karakteristik individu yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. 


Agregat Supply

Makroekonomi klasik tidak membuat perbedaan antara penawaran agregat jangka panjang dan penawaran agregat jangka pendek. Hanya satu kurva penawaran agregat dan kurvanya berbentuk vertikal---jumlah GDP riel tidak tergantung pada harga. Makroekonomi Klasik menyatakan proposisi ini mengikuti cara kerja pasar tenaga kerja. Dalam model umum, ketika tingkat pengangguran (unemployment) di atas tingkat pengangguran alamiah, maka kecenderungan upah turun (dalam kenyataan, kenaikannya lebih lambat dibandingkan kenaikan tingkat harga). Ketika tingkat pengangguran di bawah tingkat pengangguran alamiah, kecenderungan upah naik (dalam kenyataan, menaiknya lebih cepat dibanding menaiknya tingkat harga). Menurut makroekonomi Klasik, kecenderungan upah untuk menyesuaikan dengan kondisi-kondisi pasar tenaga kerja sangat kuat dan cepat, sehingga dengan demikian tingkat pengangguran selalu berada pada tingkat pengangguran alamiah.
Ahli makroekonomi Klasik mengetahui bahwa adanya fluktuasi tingkat pengangguran, dan tingkat pengangguran tersebut terkadang tinggi. Mereka mengartikan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut sebagai fluktuasi-fluktuasi pada tingkat pengangguran alamiah, bukan sebagai fluktuasi-fluktuasi pada pengangguran di sekitar tingkat alamiah.
a.      Kurva Penawaran Agregat dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya
Kurva penawaran agregat yang berlainan disebabkan oleh pandangan ahli-ahli ekonomi yang berbeda mengenai adakah ekonomi yang telah mencapai kesempatan kerja penuh dan implikasi pertambahan pendapatan nasional dan kesempatan kerja ke atas tingkat harga serta cirri-ciri pasran tenaga kerja.
Menurut pendapat ahli-ahli ekonomi Klasik perekonomian akan selalu mencapai kesempatan kerja penuh. Dengan demikian pendapatan nasional akan selalu mencapai tingkat yang paling maksimum yaitu pendapatan nasional pada kesempatan kerja penuh Yf. Jumlah barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara pada tahun tertentu yang digambarkan oleh Yf’tergantung kepada faktor – faktor produksi yang tersedia. Jumlah faktor-faktor produksi inilah yang akan menentukan kedudukan Yf. Dalam grafik (a) dari gambar 2.3 perpindahan AS0 dan Yf menjadi AS1 dan Y1f menggambarkan bahwa jumlah faktor-faktor produksi yang sudah semakin banyak dan memungkinkannya untuk menaikkan produksi negara dari Yf menjadi Y1f.
Kurva penawaran agregat yang dikaitkan dengan pendapat golongan Keynesian perlu dibedakan pada dua bentuk : yang digunakan dalam analisis Keynesian sederhana dan pandangan yang telah mempertimbangkan keadaan di pasaran tenaga kerja.Grafik (b) pada hakikatnya menggambarkan bahwa tingkat harga tidak akan mengalami perubahan sebelum tingkat kesempatan kerja penuh dicapai. Tingkat harga tidak akan mengalami perubahan dan dalam grafik tingkat harga tersebut adalah P0. Pada tingkat kesempatan kerja penuh keadaan sebaliknya akan berlaku, yaitu apabila ekspansi dalam perbelanjaan agregat masih terus berlaku, pendapatan nasional tidak dapat ditambah tetapi harga-harga akan meningkat. Penggunaan tenaga kerja yang semakin banyak akan menambah pendapatan nasional. Dengan demikian peningkatan harga akan menambah pendapatan nasional riil. Sifat dari hubungan ini digambarkan oleh kurva penawaran agregat AS di grafik (c) dan kurva ini dikembangkan oleh golongan Keynesian baru.
Dalam analisis penawaran agregat yang dihubungkan dengan pendapat golongan Ekspektasi Rasional atau Klasik baru perlu dibedakan diantara penawaran agregat jangka pendek (short run aggregate supply atau SRAS) dengan penawaran agregat jangka panjang (long run aggregate supply atau LRAS). Yang dimaksudkan dengan “jangka pendek” dalam konsep diatas adalah jangka waktu dimana hanya harga-harga barang dan harga bahan mentah (seperti minyak) yang akan mengalami perubahan. Sedangkan dalam “jangka panjang” perubahan bukan saja berlaku ke atas tingkat harga barang-barang tetapi juga ke atas harga-harga input (bahan mentah dan faktor-faktor produksi) yang digunakan dalam proses produksi.
 Gambar 2.3 :Bentuk-bentuk Kurva Penawaran Agregat
Kurva Phillips Dan Penawaran Agregat
Kurva Phillips menggambarkan ciri perhubungan diantara tingkat kenaikan upah dengan tingkat pengangguran, atau di antara tingkat harga dengan tingkat pengangguran. Nama kurva tersebut diambil dari orang yang mula-mula sekali membuat studi dalam aspek tersebut. Dalam tahun 1958 A.W. Phillips, yang pada waktu itu menjadi Profesor di London School of Economics, menerbitkan satu studi mengenai cirri-ciri perubahan tingkat upah di Inggris dalam periode 1861-1957. Studi tersebut meneliti sifat hubungan diantara tingkat pengangguran dan kenaikan tingkat upah. Kesimpulan dari studi tersebut adalah : terdapat suatu sifat hubungan yang negative (berbalikan) diantara kenaikan tingkat upah dengan tingkat pengangguran. Pada ketika tingkat pengangguran tinggi, persentasi kenaikan tingkat upah adalah rendah dan apabila tingkat pengangguran rendah, persentasi kenaikan tingkat upah adalah tinggi.
Kurva Phillips
Contoh hipotetikal sesuatu kurva Phillips ditunjukkan pada gambar 3.1. Titik-titik dalam grafik tersebut menunjukkan hubungan diantara kenaikan tingkat upah nominal dan tingkat pengangguran. Perhatikan dua contoh berikut : dalam tahun t0– yaitu tahun 1990, tingkat pengangguran adalah m0 dan persentasi kenaikan upah adalah DW0’ dan dalam tahun t1 yaitu tahun 1995 tingkat pengangguran adalah m1 dan tingkat kenaikan upah adalah DW1. Titik to dan t1 menggambarkan hubungan tersebut. Maksudnya titik t0 menunjukkan pada tahun 1990 kenaikan upah adalah DW0 dan pada waktu itu tingkat pengangguran adalah m0 dan titik t1 menunjukkan pada tahun 1995 besarnya kenaikan upah adalah DW1 dan pada tahun yang sama tingkat pengangguran adalah m1. kurva Phillips ditentukan (secara analisis statistik) berdasarkan kedudukan titik-titik yang dicontohkan di atas. Walau bagaimanapun kurva Phillip telah memberi gambaran yang berguna mengenai pertalian di antara perubahan tingkat upah dan tingkat pengangguran. Kurva itu dapat digunakan sebagai suatu titik tolak untuk memahami bentuk yang lebih realistis dari kurva penawaran agregat.
Gambar 3.1 : Kurva Phillips

Kurva Phillips Dan Penawaran Agregat
Untuk memahami bentuk yang lebih realistis dari kurva penawaran agregat AS, dua langkah perlu dilakukan. Yang pertama, berdasarkan kepada kurva Phillips, perlu ditentukan sifat hubungan di antara tingkat upah dengan tingkat kesempatan kerja. Ini ditunjukkan oleh grafik (a) pada gambar 3.2. Kedua, berdasarkan sifat hubungan di antara tingkat upah dan tingkat kesempatan kerja dalam grafik (a) ini, selanjutnya ditentukan pula hubungan diantara tingkat harga dengan pendapatan nasional riil. Hubungan tersebut menggambarkan kurva penawaran agregat dalam perekonomian dan ditunjukkan dalam grafik (b). Kurva Phillips menunjukkan bahwa : semakin kecil tingkat pengangguran, semakin tinggi tingkat kenaikan upah. Dengan kata lain, peningkatan kesempatan kerja akan mempercepat kenaikan upah dan mempertinggi tingkat upah.
Gambar 3.2 : Membentuk Kurva Penawaran Agregat
3.2 Penawaran Agregat Lucas : Pandangan Ekspektasi Rasional Dan Monetaris
Kurva penawaran agregat yang dianalisis dalam teori makroekonomi pada ketika ini selalu dikaitkan kepada analisis tersebut dalam tulisannya: “The Role of Monetary Policy” dalam The American Economic Review (Maret 1968). Pada tahun 1973 Robert Lucas telah menyempurnakan analisis Friedman dalam tulisannya : “Some International Evidence on Output – Inflation Trade-offs” yang juga diterbitkan dalam American Economic Review. Teori penawaran agregat yang dikembangkan tersebut dinamakan juga sebagai teori penawaran agregat Lucas.
Pembentukan Kurva Penawaran Agregat
Penentuan penawaran agregat seperti yang diterangkan oleh Lucas pada dasarnya merupakan modifikasi dari pembentukan penawaran agregat dalam model Klasik. Dalam modelnya Lucas diperhatikan penyesuaian-penyesuaian jangka pendek yang berlaku sebagai akibat perubahan harga dan tingkat upah. Telah ditunjukkan bahwa perubahan harga dan upah akan menimbulkan perubahan ke atas permintaan tenaga kerja. Perubahan ini selanjutnya akan menimbulkan perubahan ke atas penawaran agregat.
Pada grafik di bawah ini menggambarkan kurva permintaan tenaga kerja dan digambarkan sesuai dengan analisis mengenai hubungan di antara keseimbangan di pasaran tenaga kerja dengan permintaan tenaga kerja yang diterangkan sebelum ini. Misalkan pada mulanya keadaan di pasaran tenaga kerja ditunjukkan oleh titik E- yaitu tingkat upah riil adalah W0/P0 dan tenaga kerja yang digunakan adalah No yang akan dimisalkan juga sebagai jumlah tenaga kerja pada kesempatan kerja penuh. Titik E ini bertindih dengan titik B yang menggambarkan hubungan di antara upah W2 dan tingkat harga P1 di mana W2/P1 = W0/P0’ dan dengan titik D yang menggambarkan hubungan di antara upah W4 dengan tingkat harga P2 dimana W4/P2 = W0/P0. Titik A menggambarkan bahwa permintaan tenaga kerja telah meningkat dan ini disebabkan karena kenaikan harga (dari P0 menjadi P1) diikuti oleh kenaikan upah yang lebih rendah tingkatnya (W0 menjadi W1) dan menyebabkan upah riil merosot (W1/P1 lebih rendah dari W0/P0). Titik C menggambarkan keadaan sebaliknya yaitu harga mengalami tingkat pengurangan yang lebih besar (dari P0 menjadi P2) dari penurunan upah (dari W0 menjadi W3) dan mengakibatkan kenaikan upah besar (W3/P2 lebih tinggi dari W0/P0).

Gambar 3.4: Kurva Penawaran Agregat

Penawaran Agregat Golongan Keynesian Baru
Menurut golongan Keynesian Baru, upah di dalam pasaran ditentukan secara kontrak diantara pekerja dan majikan, dan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan dalam permintaan dan penawaran tenaga kerja yang berlaku. Dengan perkataan lain upah cenderung untuk bertahan pada tingkat yang sudah disetujui oleh perjanjian di antara tenaga kerja dan majikan. Pengurangan permintaan tenaga kerja tidak akan menurunkan upah nominal dan sebaliknya pertambahan permintaan tenaga kerja tidak akan secara tepat menaikan upah nominal.
Cara Membentuk Penawaran Agregat Keynesian Baru
Berdasarkan kepada pandangan di atas maka pembentukan kurva penawaran agregat dalam pendekatan golongan Keynesian Baru adalah sedikit berbeda dengan yang digunakan oleh golongan Klasik Baru. Uraian berikut akan menunjukkan pembentukan kurva AS dalam pendekatan Keynesian Baru dan perbandingan kurva AS menurut golongan Klasik Baru dan Keynesian Baru.
Gambar 3.5 menunjukkan pendekatan golongan Keynesian Baru dalam membentuk kurva penawaran agregat AS. Grafik dibawah ini menggambarkan permintaan tenaga kerja pada berbagai tingkat harga dan penawaran tenaga kerja apabila para pekerja mempunyai ekspektasi bahwa tingkat harga yang berlaku adalah P0. Pada mulanya dimisalkan permintaan tenaga kerja ditunjukkan oleh kurva ND(P0) yaitu kurva permintaan yang akan berlaku apabila tingkat harga adalah P0. Dengan demikian keseimbangan pasaran tenaga kerja dicapai di titik E0. Berdasarkan kepada keseimbangan ini perjanjian kerja diantara pekerja dengan majikan akan menetapkan tingkat upah pada W0. Menurut golongan Keynesian baru, tingkat upah ini relatif stabil dan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan harga barang, selama kontrak perjanjian kerja masih berlaku. Pada keseimbangan ini tenaga kerja yang digunakan adalah N0.
Apabila berlaku kenaikan harga dari P0 menjadi P1 akan berlaku pergeseran ke atas kurva permintaan tenaga kerja yaitu menjadi ND (P1). Tanpa perubahan dalam tingkat upah (yaitu tetap sebanyak W0) keseimbangan di pasaran tenaga kerja dicapai di titik E1. Sebagai akibat N1 tenaga kerja akan digunakan dalam perekonomian, dan akan meningkatkan produksi nasional riil menjadi Y1.

Gambar 3.5  : Penawaran Agregat Golongan Keynesian Bar

3.3.2 Perbedaan Kurva AS Klasik Baru Dan Keynesian Baru
Untuk menunjukkan pembentukan kurva permintaan agregat golongan Klasik baru akan digunakan pendekatan seperti yang digunakan dalam menerangkan grafik di bawah ini. Kenaikan harga, dari P0 menjadi P1’ menyebabkan kurva permintaan tenaga kerja bergeser menjadi ND (P1) dan keseimbangan di pasar tenaga kerja bergeser ke titik D yang menggambarkan tingkat upah nominal meningkat menjadi W1 dan kesempatan kerja menjadi N3. Berdasarkan kepada keseimbangan ini maka produksi nasional riil meningkat menjadi Y3 dan hubungan di antara tingkat harga (P1) dengan pendapatan nasional riil (Y3) ditunjukkan oleh titik D pada grafik (d). Sekarang perhatikan keadaan yang sebaliknya yaitu apabila harga turun dari P0menjadi P2. Permintaan tenaga kerja akan menjadi ND (P2) dan keseimbangan di pasaran tenaga kerja dicapai di titik E.Tingkat upah nominal menurun menjadi W2 dan tenaga kerja yang digunakan adalah sebanyak N4 . Berdasarkan pada perubahan ini maka titik E pada grafik (d) menggambarkan hubungan yang baru diantara tingkat harga (P2) dan pendapatan nasional riil (Y4). Penawaran agregat dalam analisis Klasik Baru diperoleh dengan membentuk suatu kurva yang melalui titik E, A dan D yaitu kurva ASc. Dari analisis ini dapat disimpulkan: kurva penawaran agregat Klasik Baru (ASc) adalah lebih curam dari kurva penawaran agregat Keynesian Baru (ASK).

Gambar 3.6 Kurva AS: Pandangan Klasik Baru dan Keynesian Baru.

b.      Dua Penyebab Fluktuasi Ekonomi
Bagi kaum neo-keynesian, fluktuasi ekonomi terjadi karena dua penyebab utama :
1.      terjadinya perubahan-perubahan adlm tingkat investasi & rendahnya tingkat konsumsi.
2.      fluktuasi terjadi karena tidak a&ya mekanisme koreksi yg mampu mendorong perekonomian pada keseimbangan kesempatan kerja penuh (full employment equilibrium).

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda