Blogger Template by Blogcrowds

.

Save orang utans!



Menurut The Nature Conservancy (TNC) sedikitnya ada 750 orang utan di Kalimantan yang terbunuh tiap tahunnya. Pembantaian ini diduga dilakuakan oleh perusahan kelapa sawit, salah satunya adalah PT. Khaleda Agroprima Malindo (KAM), anak perusahan Malaysia. Menurut pengakuan dua pelaku yang sudah ditangkap mereka mendapatkan upah sebesar Rp. 200.000 tiap menangkap satu orang utan. Cara mereka membunuh juga serem banget yaitu menggunakan senapan angin & 12 anjing pemburu. L
Bagi sebagian besar perusahan kelapa sawit, orang utan dianggap menggagalkan panen. Dalam satu hari, seekor orang utanbisa makan 30-50 tanaman sawit yang berumur dibawah 1 tahun. Missal, harga sawit dibawah 1 tahun 15 ribu, maka seekor orang utan bisa menyebabkan kerugian Rp.450.000- Rp.750.000 per hari. Alas an inilah yang membuat perusahan kelapa sawit memburu mereka.
Padahal penyebab orang utan makan kelapa sawit karena perusahaan itu sendiri loh. Hutan yang SEHARUSNYA jadi habitat orangutan ditebangi untuk dijadikan kebun sawit dan pertambangan. Dalam waktu kurang dari 20 tahun terakhir, orangutan sudah kehilangan 80% habitatnya. Tanpa hutan merka tidak punya rumah, kelaparan, dan TERPAKSA makan kelapa sawit. L
Secara keseluruhan populasi orangutan saat ini hanya sekitar 50 ribu saja. Padahal orangutan bisa melahirkan 3-4 kali loh seumur hidupnya. Kalau keadaan ini terus dibiarkan mereka akan punah. Sekarang memang banyk yang sudah peduli terhadap nasib orangutan, tetapi tentu saja ada pihak yang berwenang untuk menangani kasus ini yakni pemerintah. Menurut UU No.5 thn 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya. Pelaku pembunuhan satwa dilindungi seperti orangutan dikenai hukuman denda Rp. 100 Juta atau pidana 5 tahun penjara. Pemerintah sudah cukup menunjukan keseriusannya, dengan menangkap 4 orang tersangka.
Walaupun pembantaian sudah dihentikan, tapi orangutan masih terancam punah kalau habitat mereka terus digusur untuk dijadikan lahan usaha. Apalagi orangutan Kalimantan termasuk subspecies Pongo Pygemaeus Mario (Kalimantan Timur) dan Pongo Pygemaeus Wurmbii (Kalimantan Tengah) yang hanya bisa bertahan di habitat aslinya. Tidak adil kan kalau mereka harus mengalah karena kelapa sawit dan keuntungan sekelompok orang!!!

0 Comments:

Post a Comment



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda